Rabu, 30 April 2014

RESENSI


 
Kritik Sosial Lewat Humor


Judul buku               : Kiai Sableng, Santri Gendeng; Jenaka Tak Sekadar Tawa
Penujlis                     : Awang Surya
Penerbit                    : Ersa, Jakarta
Cetakan                    : I, 2012
Tebal                        : 207 Halaman
ISBN                        : 978-602-18332-1-6
Harga                       : Rp. 34.500,-


Banyak hal yang kita lewati dalam hidup. Baik perkara yang menyenangkan maupun tidak. Dari yang lewat begitu saja sampai pada perkara yang membutuhkan penyelesaian secara serius.itulah problematika hidup dan kehidupan.

Terkadang hidup ini berada di atas, memiliki jabatan memiliki harta melimpah, merasa senang, dan sebagainya. Sebaliknya, kita juga bisa berada dalam kondisi di bawah; menjadi bawahan, menjadi rakyat biasa, Semua itu tidak akan bermakna jika kita tidak memikirkan proses itu dengan baik. Namun, salah satu cara paling mudah untuk menghadapi itu semua adalah dengan tersenyum.




Kiai Sableng, Santri Gendeng hadir dengan membawa cerita jenaka. Awang Surya menyuguhkan cerita tentang permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Keahliannya dalam membuat dengan alur cerita yang ringan menjadi kelebihan tersendiri.

Terdapat 20 cerita yang ditawarkan penulisnya dalam karyanya yang satu ini. Selain bermuatan humor, ceritanya juga bernuansa religius. Alurnya akan membawa kita pada pemikiran epistemologis yang tak terjangkau menjadi lebih membumi. Karena cerita-cerita yang ditampilkan mampu menyeret kita pada pertanyaan-pertanyaan mengenai hidup dan kehidupan.

Kiai Sableng yang dimaksud dalam karya ini adalah bernama Abdul Halim. Biasanya masyarakat menyapanya dengan “Cak Dul”.

Adapun penggunaan kata Sableng di sini bukan berkonotasi negatif. Melainkan untuk menggambarkan sosok Cak Dul yang trendi, gaul dan humoris serta agamis.

Sosok itu menjadikan orang-orang tertawa lepas saat meminta nasihat kepadanya. Seolah masalahnya hilang bersamaan dengan hal tersebut.
Kiai ini dikisahkan memiliki sikap yang egaliter. Sehingga membuat masyarakat dari berbagai kalangan datang bertanya kepadanya. Di setiap dakwahnya Cak Dul selalu ditemani santri (murid) setianya bernama Sukirno.

Salah satu tema yang menarik untuk disimak adalah mengenai rasa optimis. Awang Surnya mengajak pembaca untuk memikirkan ulang tentang perasaan dan pikiran-pikiran negatif. Jauhkan rasa pesimis, takut salah minder, dan sebagainya sebelum melakukannya.
Ternyata, kita sering takut mencoba sesuatu itu disebabkan oleh ketidaktahuan. Misalnya, banyak sarjana yang takut berwirausaha dan lebih memilih melamar kerja hanya karena takut bangkrut (halaman 34). Padahal, Islam menjamin pintu rizki berwirausaha itu lebih besar dibanding pekerjaan yang lainnya.

Awang Surya juga menyoroti masalah toleransi. Menurutnya, kalaulah keseragaman itu membawa kebaikan, pastilah Tuhan akan menyeragamkan ciptaannya. Kenyataannya Tuhan menciptakan manusia beda kalmin, beda bangsa, dan beda suku (halaman 51).
Namun, watak manusia ingin menang sendiri dan selalu melihat dari sudut pandangnya sendiri. Akibatnya, ketika ada pendapat yang berbeda langsung memberikan justifikasi.
Misalnya, hanya karena mengenakan celana yang tidak semode dengannya, sekelompok orang memberikam label “bukan umat Rasul”. Hanya karena tidak memelihara janggut, segera saja mereka diklasifikasikan inkar sunnah. Hanya karena perbedaan dalam masalah pelafalan redaksi shalawat, mereka memasukkan para pelakunya sebaga ahli bid’ah (halaman 56).

Canda dan tawa memang tidak dilarang dalam Islam. Bahkan, Rasulallah saw pernah berguyon. Saat itu ada seorang nenek bertanya kepada beliau. Nenek tua renta itu bertanya kepada Rasulallah, apakah dirinya akan masuk surga? Rasulallah menjawab, tidak, karena di surga tidak ada nenek. Nenek itu pun menangis tersendu-sendu. Lalu Rasulallah menjelaskan bahwa saat orang tua renta masuk surga akan menjadi muda belia kembali.

Berdasarkan kisah di atas, Rasulallah mengajarkan humor, bercanda, dan hal serupa boleh saja. Asalkan itu sebagai sebuah kebenaran. Bukan candaan atau laawakan yang dibuat-buat. Bahkan, cenderung menjadi lawakan yang minus hikmah.

Buku yang memiliki gaya bahasa keseharian, sehingga mudah dipahami dan enak dibaca. Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya pun tidak terkesan menggurui. Kita akan dibuat tersenyum dengan cerita-cerita dalam buku ini. Tetapi juga kadang tanpa terasa serasa menyindir kehidupan kita yang melenceng dari norma-norma.

Sindiran dalam buku ini menyadarkan kepekaan sosial kita. Masalah yang diangkat pun berada disekeliling kita. Penulisnya hendak memberikan motivasi kepada para pembacanya bahwa persoalan-persoalan yang cukup serius pun bisa disikapi dengan senyum, atau bahkan tertawa, tanpa harus mengernyitkan dahi.

Kita disadarkan dengan cerita-cerita yang penuh hikmah. Pesan inspiratif dapat kita temukan dalam setiap cerita dalam buku ini. Menariknya cerita itu dibungkus dengan humor. Karena setiap ulasan cerita disertakan dalil-dalil agama, baik yang diambil dari al-Quran dan hadis maupun dari kaidahushul al-fiqh.

sumber: http://belajar-resensibuku.blogspot.com/2014/03/kritik-sosial-lewat-humor.html

METODE ILMIAH

Pengertian Metode Ilmiah
            Metode Ilmiah adalah proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam ataupun fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar.

Tujuan Mempelajari Metode Ilmiah
            Dalam mempelajari metode ilmiah terdapat tujuan khusus yang ingin kita capai, diantaranya:

Karangan Ilmiah


A.  KARANGAN ILMIAH
Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan di tulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Dapat juga diartikan sebagai tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu. Disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggung jawabkan kebenaran atau keilmiahannya. Karangan ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Ø  Objektif, keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, dan tidak dimanipulasi.
Ø  Netral, kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ø  Sistematis, uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya.
Ø  Logis, kelogisan ini bisa di lihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif.
Ø  Menyajikan fakta, bukan emosi atau perasaan.
Ø  Tidak pleonatis, maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat kata-katanya atau tidak berbelit-belit.
Ø  Menggunakan ragam bahasa formal.

B.  KARANGAN ILMIAH POPULER
Karangan ilmiah popular adalah pengetahuan ilmiah yang disajikan dengan tampilan format dan bahasa yang lebih enak di baca dan mudah dipahami, fakta yang disajikan harus tetap objektif dan dijiwai dengan kebenaran dan metode berfikir yang keilmuan. Karangan non ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Ø  Secara bahan menyajikan fakta objektif, bisa juga fiktif.
Ø  Secara penyajian, menggunakan bahasa yang cermat, tidak selalu formal tetapi tetap taat asas, di susun secara sistematis, tidak memuat hipotesis.
Ø  Sikap penulis, tidak memancing pertanyaan yang meragukan perasaan pembac agar seolah-olah mereka menghindari sendiri.
Ø  Simpulan, membiarkan fakta berbicara sendiri, sekalipun didahului dengan membimbing dan mendorong pembacanya untuk berpikir aplikasinya.
Ø  Sasaran masyarakat umum atau awam.
Ø  Menggunakan kata-kata sederhana, mudah didentifikasi dan dipahami.
Ø  Tidak memuat hipotesis.
Ø  Isi dan judul harus informative dan mudah di tangkap maksudnya.
Ø  Karangan ilmiah popular di susun seperti kerucut terbalik.
Ø  Menggunakan bahasa yang komunikatif.

C.  KARANGAN NON ILMIAH
Karangan non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Bersifat subjektif, tidak di dukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa di gunakan (tidak formal). Karangan non ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Ø  Emotif, kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
Ø  Persuasif, penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
Ø  Deksriptif, pendapat pribadi, sebagian imajinatif, dan subjektif.
Ø  Kritik tanpa dukungan buktinya

Sumber : http://demirantiwijaya.blogspot.com/2014/04/karangan-ilmiah.html


Senin, 24 Maret 2014

INDUKTIF

INDUKTIF

Generalisasi
            Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual (khusus) menuju kesimpulan umum yang mengikat selutuh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.
Contoh :
Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi : Semua bintang sinetro berparas cantik.
            Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya. Karena contoh kesalahannya :Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.

Hipotesis dan Teori
            Suatu hipotesis sifatnya spesifik dan prediktif, membahas tentang apa yang anda harapkan akan terjadi dalam penelitian anda. Sebagai contoh, sebuah penelitian untuk melihat hubungan antara kebiasaan belajar dan kecemasan mungkin memiliki hipotesis yang menyatakan, “kami memperkirakan bahwa siswa dengan kebiasaan belajar yang lebih baik tidak mengalami banyak kecemasan”. Jika sebuah studi membahas tentang eksplorasi alam, hipotesisnya harus selalu menjelaskan apa yang diharapkan terjadi selama eksperimen atau penelitian.
            Sebuah teori adalah prinsip mapan yang telah dikembangkan untuk menjelaskan beberapa aspek dari suatu pengetahuan. Sebuah teori muncul dari pengamatan dan pengujian berulang dengan menggabungkan fakta, hukum, prediksi, dan hipotesis yang diterima secara luas.
Perbedaan antara hipotesis dan teori adalah :
·         Suatu teori memprediksi peristiwa secara umum, sedangkan hipotesis membuat prediksi spesifik tentang bagian tertentu suatu keadaan.
·         Suatu teori telah diuji secara luas dan diterima secara umum, sedangkan hipotesis adalah dugaan spekulatif yang belum diuji.

Analogi
            Paragraf analogi adalah paragraf yang penalarannya dengan cara membandingkan dua hal yang banyak mengandung persamaan. Dalam membuat paragraf analogi ini kita diharuskan memikirkan 2 hal yang memiliki kesamaan. Proses berfikir ini ialah yang disebut proses berfikir induktif.
Contoh :
            Belajar dengan menggunakan buku dan kertas seperti pedang yang berkepala dua. Jika menggunakan kertas terlalu banyak dapat menyebabkan hutan gundul dan pemanasan global terjadi. Tapi apabila tidak menggunakan kertas dapat menyebabkan orang tidak dapat belajar dengan baik apalagi yang memiliki tingkat ekonomi terbatas serba salah untuk mengambil keputusan seperti saat menggunakan pedang berkepala dua yang  bisa menyerang dua arah yang berlawanan.

Hubungan Kausal
            Hubungan kausal adalah pola penyusunan paragraf dengan menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab akibat. Paragraf hubungan sebab akibat merupakan paragraf yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat.
Contoh:
Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya pohon=pohon di utan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.
Ada tiga pola hubungan kausalitas, yaitu sebab-akibat, akibat-sebab, dan sebab-akibat satu dan akibat dua.
·         Sebab-akibat
Penalaran ini berawal dari peristiwa yang merupakan sebab, kemudian sampai pada kesimpulan sebagai akibatnya. Polanya adalah A mengakibatkan B. hal penting yang perlu kita perhatikan dalam membuat kesimpulan pola sebab-akibat adalah kecermatan dalam menganalisis peristiwa atau faktor penyebab.
·         Akibat-sebab
Dalam pola ini kita memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa ini kemudian kita analisis untuk mencari penyebabnya. Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikian seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.

Induksi Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat. Karangan ini berisi untaian atau enjelasan tentang suatu topic dengan tujuan member informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi untaian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparn proses.
Langkah menyusun eksposisi :
·         Menentukan topic/tema
·         Menetapkan tujuan
·         Mengumpulkan data dari berbagai sumber
·         Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
·         Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi


Sumber :
http://andriksupriadi.wordpress.com/2010/04/03/pengertian-generalisasi/
http://blogteori.com/2013/11/perbedaan-antara-teori-dan-hipotesis.html
http://contohparagraf.blogspot.com/2013/08/contoh-paragraf-analogi.html
http://yulirahmawati93.blogspot.com/2013/01/hubungan-kausal.html
http://zainal-muttaqin.blogspot.com/2010/03/penalaran-induktif.html
http://demirantiwijaya.blogspot.com/2014/03/induktif.html

DEDUKTIF

DEDUKTIF

Silogisme Kategorial
            Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Dan yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah.
Contoh :
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
Akasia adalah tumbuhan (Premis Minor)
Akasia membutuhkan air (Konklusi).

Silogisme Hipotesis
            Silogisme hipotesis yaitu silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi conditional hipotesis. Conditional hipotesis yaitu :
·         Bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen.
·         Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh :
My : Jika tidak ada uang manusia sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mn: Uang tidak ada.
K : Jadi manusia akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Silogisme Alternatif
          Silogisme alternative adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternative. Proposisi alternative yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternative yang lain.
Contoh :
My : Kucing berada di dalam rumah atau di luar rumah.
Mn : Kucing berada di luar rumah.
K : Jadi kucing tidak berada di dalam rumah.

Entimen
            Entimen adalah silogisme yang diperpendek. Entimen tidak perlu menyebutkan premis umum, tetapi langsung mengetengahkan simpulan dengan premis khusus yang menjadi penyebabnya. Rumus entimen adalah : C=B, karena C=A.
Contoh :
Silogisme :
PU : Pegawai yang baik tidak mau menerima suap.
PK : Decin pegawai yang baik.
S : Decin tidak mau menerima suap.
Entimemnya:
Decom tidak mau menerima suap, karena ia pegawai yang baik.
Penjelasannya :
C : Ali,ia
B : Tidak mau menerima suap.
C=B, karena C=A


Sumber :
http://gilatugas.blogspot.com/2012/04/silogisme-dan-penalaran.html
 http://adulchuletta.blogspot.com/2010/06/tugas-silogisme-hipotesis.html
http://yessa0409.blogspot.com/2013/03/silogisme-alternatif.html
http://acepgagan.blogspot.com/2013/01/silogsme-entimen.html
http://demirantiwijaya.blogspot.com/2014/03/deduktif_6.html

PENALARAN

PENALARAN

Pengertian
            Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Dengan kata lain penalaran dapat juga diartikan sebagai suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan.

Proposisi
            Proposisi adalah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Dengan kata lain, proposisi sebagai pernyataan yang di dalamnya manusia mengakui atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu yang lain.
            Proposisi merupakan pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Sehingga dapat diartikan proposisi sebagai pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat.

Inferensi dan Implikasi
            Metode Inferensi adalah mekanisme berfikir dan pola-pola penalaran yang digunakan oleh system untuk mencapai suatu kesimpulan. Metode ini akan menganalisa masalah tertentu dan selanjutnya akan mencari jawaban atau kesimpulan yang terbaik. Penalaran dimulai dengan mencocokkan kaidah-kaidah dalam basis pengetahuan dengan fakta-fakta yang ada dalam basis data.
            Sedangkan untuk metode implikasi, perhatikan pernyataan berikut ini, “Jika matahari bersinar maka udara terasa hangat”, jadi bila kita tahu bahwa matahari bersinar, kita juga tahu bahwa udara terasa hangat. Karena itu akan sama artinya jika kalimat tersebut kita tulis sebagai berikut, “bila matahari bersinar, udara terasa hangat”, “sepanjang waktu matahari bersinar, udara terasa hangat”, “matahari bersinar berimplikasi udara terasa hangat”. “matahari bersinar hanya jika udara terasa hangat”.
            Berdasarkan pernyataan diatas, maka untuk menunjukkan bahwa udara tersebut hangat adalah cukup dengan menunjukkan bahwa matahari bersinar. Sedangkan untuk menunjukkan bahwa matahari bersinar adalah perlu dengan menunjukkan udara menjadi hangat atau udara terasa hangat merupakan syarat perlu bagi matahari bersinar.

Wujud Evidensi
Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu. Biasanya semua bahan informasi berupa statistik, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan atau diberikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya di masukkan dalam pengertian data (apa yang diberikan) dan infromasi (bahan keterangan). Pada dasarnya semua data dan informasi harus diyakini dan diandalkan kebenarannya. Untuk itu penulis atau pembicara harus mengadakan pengujian atas data dan informasi tersebut, apakah semua bahan keteraangan itu merupakan fakta.
Fakta adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau sesuatu yang ada secara nyata. Bila seorang mengatakan bahwa ia telah melihat kapal musuh mendarat di sebuah pantai yang sepi, itu baru merupakan informasi.
Ada kemungkinan bahwa bisa terjadi kesalahan dalam evidensi itu. Dalam hal ini pembela akan mengajukan evidensi yang lain dengan mengatakan bahwa seorang yang lain telah mencuri pisau itu dan telah mempergunakannya untuk melakukan pembunuhan. Secara diam-diam pisau itu dikembalikan dan tanpa sadar telah dipegang oleh pemiliknya itu. Fakta-fakta yang dipergunakan sama, hanya proses penalaran yang disusun berdasarkan fakta-fakta itu berlainan.

Cara Menguji Data
·         Observasi, yaitu melakukan peninjauan untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dengan mengadakan peninjauan atau observasi singkat untuk mengecek data atau informasi tersebut.
·         Kesaksian, yaitu meminta keterangan dari orang lain, yang telah mengalami sendiri atau menyelidiki sendiri persoalan tersebut.
·         Autoritas, yaitu meminta pendapat dari seorang ahli atau mereka yang telah menyelidiki fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua fakta dan kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka di bidang tersebut.

Cara Menguji Fakta
·         Konsistensi, yaitu tidak ada satu evidensi yang bertentangan atau melemahkan evidensi yang lain, maka argumentasi itu tidak akan meyakinkan pembaca atau pendengar.
·         Koherensi, fakta yang digunakan sebagai evidensi harus koheren dengan pengalaman manusia atau sesuai dengan pandangan juga sikap yang berlaku. Penulis harus meyakinkan pembaca untuk menerima fakta-fakta dan jalan pikiran yang dikemukakannya.

Cara Menilai Autoritas
·         Tidak mengandung prasangka :
Pendapat itu disusun berdasarkan pada hasil-hasil eksperimental yang dilakukannya. Pengertian tidak mengandung prasangka juga mencakup hal lain, yaitu bahwa autoritas tidak boleh memperoleh keuntungan pribadi dari data-data eksperimentalnya. Bila faktor-faktor itu tidak mempengaruhi autoritas itu, maka pendapatnya dapat dianggap sebagai pendapat yang objektif.
·         Pengalaman dan pendidika autoritas :
Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal dan harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli yang diperoleh melalui pendidikannya tadi. Pengalaman yang diperoleh autoritas dengan penelitian yang dilakukannya dan mempresentasikan hasil-hasil penelitian juga pendapatnya, akan lebih memperkokoh kedudukannya, dengan catatan bahwa syarat pertama diatas harus diperhatikan.
·         Kemashuran dan prestise:
Meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi dibalik kemashuran dan prestise pribadi dibidang lain. Sering terjadi bahwa seseorang yang menjadi terkenal karena prestise tertentu, dianggap berwenang pula dalam segala bidang. Selama apa yang dikatakannya hanya merupakan pendapat, maka tidak menjadi masalah. Tapi sangat menyedihkan bila pendapatnya itu dikutip dan diperlakukan sebagai suatu autoritas, tanpa mengadakan penelitian sampai dimana kebenaran pendapat itu dan dasar-dasar mana yang dipakai dan diandalkan untuk menyusun pendapat tersebut.
·         Koherensi dengan kemajuan :
Pendapat yang diberikan autoritas itu sejalan dengan perkembangan dan kemajuan jaman, atau koheren dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang tersebut. Untuk memperlihatkan bahwa penulis sungguh-sungguh siap dengan persoalan yang tengah diargumentasikan, maka sebaiknya seluruh argumentasi itu jangan didasarkan hanya pada satu autoritas. Dengan bersandar pada satu autoritas saja, maka hal itu memperlihatkan bahwa penulis kurang menyiapkan diri.

Sumber:
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Penalaran
http://hadi27.wordpress.com/penalaran-dalam-penulisan-karya-ilmiah/
http://andini-andhini.blogspot.com/2013/04/pengertian-penalaran-dan-proposisi.html
http://gorengghora.blogspot.com/2011/01/pengertian-implikasi.html
http://demilanisa.blogspot.com/2012/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://vianipire.blogspot.com/2012/03/penalaran-itu.html

Selasa, 28 Januari 2014

ABSTRAK

DEFINISI

Pengertian umum abstrak merupakan penyajian singkat mengenai isi tulisan sehingga pada tulisan, ia menjadi bagian tersendiri. Abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat kepada pembaca.